Dari Kapal ke Warung dan Tambak, Tanjung Santan Buka Peluang Ekonomi Pesisir Kukar

0

Kegiatan doa bersama dan pemberian arahan dari kepala bagian operasional.

Sharing

Rahimnews.id – Aktivitas di pesisir Kutai Kartanegara mulai menunjukkan geliat baru. Kembalinya aktivitas ekspor melalui Terminal Khusus PT Prima Dermaga Perkasa di Tanjung Santan bukan hanya menandai kembali bergeraknya jalur pelayaran yang pernah ramai, tetapi juga membuka peluang bagi masyarakat di sekitarnya untuk ikut menikmati perputaran ekonomi. Sebelum matahari terbit, aktivitas masyarakat Desa Semangko, Kecamatan Marang Kayu, sudah dimulai. Nelayan berangkat melaut, sementara di perairan Tanjung Santan kapal-kapal mulai melakukan aktivitas bongkar muat.

Pemandangan tersebut menghidupkan kembali kawasan yang memiliki sejarah panjang sebagai simpul pelayaran di pesisir Kukar. Sejak 1973, Tanjung Santan telah menjadi bagian dari aktivitas pelayaran. Kawasan ini pernah ramai oleh lalu lintas kapal tanker migas Pertamina sebelum aktivitasnya kemudian meredup.

“Zaman dulu Bea Cukai sudah ada di sini. Kapal tanker hilir mudik. Sekarang giliran batu bara,” kata Kepala Desa Semangko, Ansar K, kepada Kaltim Post.

Kini, aktivitas tersebut kembali bergerak. Pada Juli 2026, Terminal Khusus PT Prima Dermaga Perkasa memperoleh legalitas untuk melayani kegiatan ekspor. Dokumen pendukungnya mencakup PKKPRL 2024, sertifikat operasi 2025, hingga penetapan kawasan pabean pada Juli 2026. Kepala KUPP Kelas III Tanjung Santan, Abdul Wahid, menggambarkan kondisi tersebut sebagai momentum untuk menghidupkan kembali aktivitas pelabuhan.

“Bangkit lagi,” ujarnya.

Terminal Khusus tersebut melayani 10 perusahaan tambang mitra. Sebelumnya, aktivitas pelayaran domestik telah berlangsung dengan sekitar 16 kapal yang hilir mudik. Dengan dibukanya jalur ekspor, aktivitas pelayaran di kawasan tersebut semakin bertambah. Namun, geliat Tanjung Santan kali ini tidak hanya dapat dilihat dari bertambahnya kapal yang datang dan pergi. Dampak yang lebih penting berada di daratan, yakni bagaimana aktivitas pelabuhan menciptakan peluang bagi masyarakat sekitar.

700 Tenaga Kerja Terserap

Data KUPP Kelas III Tanjung Santan mencatat sekitar 700 tenaga kerja telah terserap dalam kegiatan bongkar muat. Sebagian besar berasal dari wilayah Marang Kayu dan Muara Badak. Kehadiran aktivitas tersebut juga menjadi peluang bagi masyarakat yang sebelumnya kehilangan pekerjaan.

“Jalannya koperasi ini nolong teman-teman yang kena PHK. Bisa kerja lagi, walau belum tiap hari,” kata Anwar, tokoh masyarakat pesisir Kukar.

Koperasi TKBM menjadi salah satu penghubung antara aktivitas pelabuhan dengan tenaga kerja lokal. Pergerakan kapal dan kegiatan bongkar muat memberikan ruang bagi masyarakat untuk kembali terlibat dalam aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.

Angka 700 tenaga kerja ini juga diharapkan bukan menjadi angka akhir. Seiring meningkatnya aktivitas pelabuhan dan bertambahnya kebutuhan operasional, terbuka peluang bagi penyerapan tenaga kerja lokal yang lebih besar ke depan. Harapannya, semakin banyak masyarakat di sekitar Tanjung Santan, khususnya dari Marang Kayu dan Muara Badak, yang dapat memperoleh kesempatan kerja dan merasakan manfaat dari tumbuhnya aktivitas ekonomi di kawasan tersebut.

Bagi masyarakat pesisir, peluang ekonomi bahkan diharapkan tidak berhenti pada pekerjaan di pelabuhan. Kebutuhan logistik kapal juga dipandang sebagai peluang untuk menghubungkan aktivitas pelabuhan dengan hasil produksi masyarakat sekitar.

“Kalau kapal butuh logistik, kenapa tidak ambil dari kita? Itu pesan kami ke perusahaan,” ujar Anwar.

Ikan hasil tangkapan nelayan, sayuran, hingga beras dari masyarakat sekitar diharapkan dapat menjadi bagian dari rantai pasok kebutuhan kapal dan aktivitas pelabuhan. Dengan demikian, aktivitas ekspor tidak hanya menjadi jalur keluar masuk komoditas, tetapi juga dapat menciptakan perputaran ekonomi baru di tingkat masyarakat.

Dengan aktivitas pelabuhan yang mulai kembali menggeliat, masyarakat berharap serapan tenaga kerja tidak berhenti pada angka 700 orang. Jika kegiatan terus berkembang, peluang kerja baru diharapkan ikut terbuka, sehingga manfaat ekonomi Tanjung Santan dapat dirasakan semakin luas oleh masyarakat pesisir Kukar.

Dari Kapal ke Warung dan Tambak

PT Prima Dermaga Perkasa juga menjalin kemitraan dengan Pemerintah Desa Semangko. Salah satu tujuannya adalah memastikan aktivitas ekonomi yang tumbuh di kawasan pelabuhan dapat memberikan dampak lebih luas bagi masyarakat sekitar. Harapannya, uang yang berputar di pelabuhan tidak berhenti di kawasan terminal, tetapi ikut mengalir ke warung, pasar, nelayan, petani, hingga tambak masyarakat. Kondisi tersebut menjadi penting karena struktur ekonomi Kutai Kartanegara masih sangat bergantung pada sektor sumber daya alam.

Berdasarkan data BPS, sektor pertambangan masih menyumbang 57,73 persen terhadap perekonomian Kukar pada 2024. Sementara sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan menyumbang 14,48 persen. Data tersebut menunjukkan besarnya kekuatan ekonomi berbasis sumber daya alam di Kukar. Tantangannya kemudian adalah memastikan aktivitas ekonomi tersebut juga menciptakan manfaat bagi masyarakat di wilayah sekitar kegiatan.

Tanjung Santan menjadi salah satu gambaran bagaimana rantai ekonomi tersebut dapat terbentuk. Batu bara dimuat ke kapal. Tenaga kerja lokal terlibat dalam aktivitas bongkar muat. Kapal membutuhkan logistik. Nelayan, petani, pedagang, dan pelaku usaha lokal kemudian memiliki peluang untuk memasok kebutuhan tersebut. Rantai sederhana itu berpotensi menciptakan perputaran ekonomi yang lebih luas.

“Potensinya besar untuk teman-teman pencari kerja,” kata Ansar.

Jangan Hanya Menjadi Tempat Lewat Komoditas

Meski demikian, seluruh pihak menyadari bahwa geliat ekonomi tersebut masih berada pada tahap awal. Belum terdapat data pasti mengenai seberapa besar peningkatan omzet warung, pendapatan nelayan, maupun pertumbuhan ekonomi masyarakat yang secara langsung dihasilkan dari meningkatnya aktivitas pelabuhan. Karena itu, tantangan berikutnya adalah memastikan aktivitas Tanjung Santan dapat memberikan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan.

“Jangan sampai Tanjung Santan hanya jadi tempat lewatnya komoditas. Harus jadi simpul yang menghidupkan ekonomi daratan juga,” tegas Abdul Wahid.

Pernyataan tersebut menggambarkan harapan agar aktivitas pelabuhan tidak berhenti pada fungsi logistik dan ekspor, tetapi mampu menjadi bagian dari ekosistem ekonomi masyarakat pesisir. Dengan potensi tenaga kerja, hasil perikanan, pertanian, serta usaha masyarakat sekitar, Tanjung Santan memiliki peluang untuk menjadi penghubung antara aktivitas perdagangan dan ekonomi lokal. (*)


Sharing

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *