LK1 HMI FAI Unikarta Diikuti 22 Peserta, Tekankan Pembentukan Karakter dan Intelektual
Rahimnews.id – Sebanyak 22 mahasiswa mengikuti Latihan Kader 1 (LK1) Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Kutai Kartanegara (Kukar) Komisariat Fakultas Agama Islam (FAI) Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta) angkatan 136.
Kegiatan tersebut menekankan pentingnya pembentukan karakter, moral, dan intelektualitas kader sebagai bekal pengabdian di tengah masyarakat.
LK1 yang mengangkat tema “Meneguhkan Kesadaran Intelektual dan Moral Kader HMI sebagai Insan Pengabdi” itu resmi dibuka di Sekretariat HMI Cabang Kukar, Selasa (22/9/2026).
Ketua panitia, Ahmad Sahbandi Jumita, mengatakan LK1 tidak seharusnya dipandang sebagai kegiatan seremonial semata.
Menurutnya, proses perkaderan menjadi awal bagi peserta untuk membentuk diri menjadi pribadi yang baik sekaligus memiliki kemampuan intelektual.
“Acara ini bukan hanya seremonial, tetapi menjadi awal untuk membentuk diri menjadi orang baik dan intelektual,” ujarnya.
Ketua HMI Komisariat FAI Unikarta, Ridho Arka, mengatakan perkaderan merupakan hal yang menjadi pembeda HMI dengan organisasi mahasiswa lainnya.
Ia mengutip pemikiran Lafran Pane yang disampaikan dalam buku 44 Indikator Kemunduran HMI karya Agussalim Sitompul. Menurutnya, keberadaan HMI memiliki relevansi karena perkaderan menjadi bagian penting dalam membentuk karakter kader.
“Sebenarnya HMI tidak perlu ada kalau perkaderan dan gerakannya sama dengan organisasi lain, karena itu kita harus terus beda dengan organisasi lain. Karena itulah yang membedakan HMI dengan organisasi lain adalah perkaderan,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Ketua HMI Cabang Kukar Zulhansyah juga mendorong agar proses perkaderan diarahkan pada pembentukan karakter, akhlak, moral, dan intelektual kader.
Ia berpesan kepada peserta agar mengambil hal-hal positif selama berorganisasi dan terus menjalani proses pembelajaran.
Sementara itu, alumni HMI yang juga Dekan FAI Unikarta, Habib Zainuri, mengingatkan kader agar tidak mengabaikan pendidikan akademik.
Menurutnya, aktivitas organisasi harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab mahasiswa sebagai akademisi.
Ia juga mendorong kader HMI menjadi insan pencipta yang mampu memberikan manfaat bagi masyarakat. Keberadaan HMI, kata dia, harus mampu mewarnai kehidupan sosial melalui kontribusi di masyarakat.
“Harus menjadi insan pencipta yang bermanfaat di masyarakat. HMI harus mewarnai pengabdian di masyarakat dengan ilmunya,” ujarnya.
Habib juga menekankan pentingnya nilai-nilai keislaman dalam diri kader HMI sebagai bagian dari identitas organisasi.
Alumni HMI lainnya, Misran, turut mengingatkan kader agar memiliki kepekaan terhadap kondisi sosial di sekitarnya.
Ia menilai mahasiswa perlu membangun kemampuan akademik sekaligus mengembangkan pengalaman melalui organisasi.
Menurutnya, organisasi menjadi ruang bagi mahasiswa untuk belajar mengenai intelektualitas, gerakan, dan keislaman. Karena itu, keberhasilan akademik dan organisasi seharusnya dapat berjalan beriringan.
“Dalam organisasi mahasiswa harus belajar terkait intelektual, gerakan maupun keislaman,” katanya.
Ia juga mengingatkan agar aktivitas perkuliahan tidak membuat mahasiswa meninggalkan proses perkaderan. Sebaliknya, pengalaman berorganisasi dapat menjadi ruang pembelajaran tambahan di luar materi yang diperoleh di bangku kuliah. (*)
