Bupati Aulia: Keteladanan Sultan Aji Muhammad Idris Harus Jadi Inspirasi Generasi Muda Kukar
Rahimnews.id – Bupati Kutai Kartanegara Aulia Rahma Basri menegaskan bahwa keteladanan Sultan Aji Muhammad Idris harus menjadi inspirasi bagi generasi muda di Kukar.
Hal itu disampaikan Aulia saat menghadiri kegiatan Diskusi Publik dan Pameran Produk Polahan Etam, yang digelar oleh Serikat Media Siber Indonesia (SMSI) Kukar, yang berlangsung di Pasar Tangga Arung Square, Senin (18/5/2025).
Aulia mengungkapkan dirinya menerima satu bundel buku dari Prof Rokima Kusuma, dari Universitas Negeri Makassar yang tergabung dalam tim pengusul gelar pahlawan nasional Sultan Aji Muhammad Idris.
“Menurut saya, seluruh orang Kutai sebenarnya harus dan wajib membaca buku ini. Mudah-mudahan nanti melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan, buku tersebut bisa diperbanyak dan disediakan untuk masyarakat Kukar, bahkan kalau perlu dibuat versi karikatur agar mudah dipahami anak-anak sekolah,” ujar Aulia.
Ia menilai kisah perjuangan Sultan Aji Muhammad Idris mampu menggugah sisi emosional pembaca dan mematahkan stigma lama bahwa masyarakat Kutai tidak memiliki karakter perantau maupun pejuang.
“Selama ini ada anggapan orang Kutai tidak suka merantau. Tetapi setelah membaca kisah Sultan Aji Muhammad Idris, persepsi itu sirna. Beliau justru meninggalkan zona nyaman kesultanannya demi membantu perjuangan melawan penjajah,” katanya.
Menurut dia, nilai patriotisme Sultan Aji Muhammad Idris sangat relevan diwariskan kepada generasi muda Kukar saat ini. Meski bentuk perjuangan sudah berbeda, semangat juang dan keberanian menghadapi tantangan masa depan harus tetap hidup.
“Hari ini kita memang tidak lagi berperang melawan penjajah, tetapi kita berperang untuk masa depan. Jiwa patriotisme dan jiwa petarung Sultan Haji Muhammad Idris harus ada dalam diri anak-anak kita,” ucapnya.
Aulia juga mendorong agar sosok Sultan Aji Muhammad Idris masuk dalam muatan lokal pendidikan di Kukar, sehingga para pelajar dapat mengenal sejarah dan keteladanan tokoh daerahnya sendiri.
“Anak-anak kita harus bangga mengatakan bahwa dari tanah Kutai pernah lahir seorang tokoh besar yang menginspirasi Nusantara,” tegasnya.
Aulia menekankan pentingnya menghargai loyalitas pasukan dan pengikut beliau yang tetap setia hingga akhir hayat.
“Orang Kutai dikenal loyal, dan itu salah satunya diwariskan dari keteladanan kepemimpinan Sultan Aji Muhammad Idris,” katanya.
Lebih lanjut, Aulia menambahkan hasil diskusi antara pihak Kesultanan Kutai, Pemerintah Wajo, dan tim pengusul gelar pahlawan terkait wacana pemindahan makam Sultan Haji Muhammad Idris ke Kutai Kartanegara.
Menurutnya, rencana itu disepakati tidak perlu dilakukan demi menjaga nilai historis dan hubungan emosional antara Kukar dan Wajo.
“Kami tidak ingin memutus hubungan sejarah antara Kutai Kartanegara dan Wajo. Makam beliau di sana sangat dihormati masyarakat Wajo dan menjadi simbol pengikat persaudaraan kedua daerah,” jelasnya.
Ia berharap diskusi dan seminar sejarah seperti ini tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial semata, melainkan terus dilakukan di berbagai ruang publik agar masyarakat semakin memahami akar sejarah Kutai Kartanegara sebagai salah satu pusat peradaban awal di Kalimantan Timur (Kaltim).
“Kita boleh bicara Samarinda dan Balikpapan sebagai pusat ekonomi. Tetapi ketika bicara asal-usul Kaltim, jawabannya ada di Kukar,” tutup Aulia. (*)
