Dari Almamater Ungu, Unikarta Titipkan Semangat Perjuangan kepada Mahasiswa Baru

0
Sharing

Rahimnews.id — Almamater ungu mulai dikenakan. Wajah-wajah baru memenuhi lingkungan Universitas Kutai Kartanegara (Unikarta), membawa semangat yang masih segar untuk memulai perjalanan sebagai mahasiswa.

Namun, bagi kampus yang kerap disebut sebagai “kampus perjuangan” oleh para aktivis itu, menjadi mahasiswa bukan hanya soal datang ke ruang kuliah, mengikuti ujian, lalu mendapatkan gelar.

Pesan itu mengemuka dalam Pengenalan Kehidupan Kampus bagi Mahasiswa Baru (PKKMB) Unikarta 2026 yang digelar selama tiga hari. Tahun ini, kegiatan mengangkat tema “Merajut Harmoni, Mengakar pada Budaya, dan Berkarya untuk Nusantara.”

Sebanyak 416 mahasiswa mengikuti PKKMB dari total 446 mahasiswa yang melakukan daftar ulang.

Mereka tidak hanya diperkenalkan dengan kehidupan akademik. Sejumlah tokoh turut hadir untuk berbagi pandangan, di antaranya Anggota DPR RI Dapil Kalimantan Timur Hetifah Sjaifudian, Ketua DPRD Kukar Ahmad Yani, Bupati Kukar Aulia Rahman Basri, serta Anggota DPRD Kukar Akbar Haka.

Di tengah rangkaian pengenalan itu, Ketua Panitia PKKMB Unikarta 2026 Ibnu Huda menitipkan satu pesan kepada mahasiswa baru: jangan kehilangan keberanian untuk memperjuangkan sesuatu yang dianggap benar.

Menurut Ibnu, mahasiswa baru datang ke kampus dengan membawa tanggung jawab untuk meneruskan semangat para senior yang sebelumnya telah terlibat dalam berbagai perjuangan sosial di Kukar.

“Teman-teman mahasiswa baru harus melanjutkan semangat dan napas perjuangan yang sudah dibangun para senior dalam memperjuangkan keadilan dan melawan berbagai bentuk penindasan,” ujarnya.

Bagi Ibnu, almamater ungu bukan sekadar identitas kampus. Di balik warna itu ada sejarah panjang gerakan mahasiswa yang harus tetap hidup di generasi berikutnya.

Ia berharap mahasiswa Unikarta tumbuh menjadi pribadi yang tidak mudah menyerah ketika berhadapan dengan persoalan pendidikan maupun di luar kampus.

Sebab, dunia yang akan mereka hadapi setelah lulus tidak selalu berjalan sesuai teori yang dipelajari di ruang kelas.

Dari ruang kampus, perhatian mahasiswa kemudian diarahkan ke jalan yang lebih luas: masyarakat.

Presiden BEM Unikarta Zulkarnain meminta mahasiswa baru mulai membangun kepekaan terhadap berbagai persoalan sosial di Kukar dan Kalimantan Timur.

Ia mengatakan mahasiswa tidak boleh hanya menjadi penonton ketika kebijakan pemerintah berpotensi merugikan masyarakat.

Mahasiswa, menurutnya, memiliki posisi penting sebagai kelompok yang bisa mengingatkan pemerintah ketika kebijakan mulai menjauh dari kepentingan publik.

“Kita ingin mahasiswa punya satu tujuan yang sama untuk membangun Kukar melalui kontribusi di bidang masing-masing. Mahasiswa punya tugas mengingatkan pemerintah agar berpihak kepada masyarakat dan menjadi mitra kritis demi menjaga keseimbangan,” kata Zulkarnain.

Menjadi kritis, kata dia, bukan berarti selalu berseberangan dengan pemerintah. Kritik justru diperlukan agar kekuasaan tidak berjalan sendirian tanpa pengawasan.

Zulkarnain mengingatkan, ketika masyarakat kehilangan keberanian untuk mengawasi kekuasaan, ruang penyalahgunaan kewenangan semakin terbuka.

“Kalau semua orang berpihak kepada pemerintah, maka akan melahirkan pemimpin yang korup. Karena itu dibutuhkan kontrol sosial dari masyarakat, terutama mahasiswa Unikarta,” ujarnya. (*)


Sharing

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *