Rasionalisme dan Arah Gerakan Mahasiswa yang Berbasis Nalar

0
Sharing

Rahimnews.id – Di tengah derasnya arus informasi, polarisasi politik, dan perkembangan media sosial, kalangan akademisi menilai gerakan mahasiswa perlu kembali berpijak pada tradisi rasionalisme sebagai landasan dalam menyikapi berbagai persoalan publik.

Pendekatan tersebut dinilai penting agar gerakan mahasiswa tidak terjebak pada emosi, asumsi, maupun popularitas sesaat.

Dalam filsafat, rasionalisme merupakan aliran yang menempatkan akal dan penalaran sebagai sumber utama untuk memperoleh pengetahuan dan memahami realitas.

Bagi mahasiswa, prinsip ini mengandung makna bahwa setiap sikap, kritik, maupun tuntutan harus didasarkan pada argumentasi yang logis, data yang valid, serta kajian yang mendalam.

Penerapan rasionalisme dalam gerakan mahasiswa dapat diwujudkan melalui penguatan budaya literasi, penelitian, dan diskusi ilmiah sebelum mengambil sikap terhadap suatu isu.

Dengan demikian, kritik yang disampaikan tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga menawarkan solusi yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

Sejumlah pengamat menilai gerakan mahasiswa saat ini sering menghadapi tantangan berupa penyebaran informasi yang belum terverifikasi, polarisasi pandangan, serta kecenderungan membangun opini berdasarkan sentimen kelompok.

Kondisi tersebut berpotensi melemahkan kualitas gerakan apabila tidak diimbangi dengan kemampuan berpikir kritis dan rasional.

Karena itu, mahasiswa dinilai perlu mengedepankan gerakan yang berbasis kajian. Bentuknya dapat berupa penyusunan naskah akademik, penelitian lapangan, forum diskusi publik, advokasi kebijakan, hingga penyampaian rekomendasi kepada pemerintah dan pemangku kepentingan.

Aksi demonstrasi tetap menjadi instrumen demokrasi yang sah, namun idealnya dilakukan setelah melalui proses analisis yang matang.

Selain berfungsi sebagai kontrol sosial, mahasiswa juga diharapkan menjadi produsen gagasan bagi masyarakat. Peran tersebut menuntut kemampuan untuk mengidentifikasi masalah, menganalisis akar persoalan, serta merumuskan alternatif solusi yang realistis dan terukur.

Di tengah kompleksitas persoalan bangsa, rasionalisme menjadi pengingat bahwa kekuatan utama mahasiswa bukan hanya terletak pada jumlah massa atau kerasnya suara kritik, melainkan pada kualitas argumentasi dan ketajaman analisis.

Dengan menjadikan nalar sebagai fondasi gerakan, mahasiswa dapat menjalankan perannya sebagai kekuatan intelektual yang tidak hanya mengkritik keadaan, tetapi juga ikut merancang perubahan yang lebih baik.(*)


Sharing

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *