Tunsā Ka Annaka Lam Takun, Pesan Filosofis Arab yang Relevan di Era Digital
Rahimnews.id – Di tengah kehidupan modern yang dipenuhi persaingan, pencarian popularitas, dan keinginan untuk selalu diakui, sebuah pepatah Arab kuno kembali menemukan relevansinya.
Ungkapan “تُنسَى كَأَنَّكَ لَمْ تَكُن” (tunsā ka annaka lam takun), yang berarti “engkau akan dilupakan seakan-akan tidak pernah ada”, menjadi refleksi mendalam tentang makna kehidupan dan posisi manusia di tengah arus waktu.
Pepatah yang populer melalui karya penyair Palestina, Mahmoud Darwish, tersebut mengingatkan bahwa tidak ada manusia yang benar-benar abadi.
Jabatan, kekayaan, ketenaran, bahkan popularitas yang diperoleh dengan susah payah pada akhirnya akan memudar seiring berjalannya waktu.
Di era digital saat ini, banyak orang mengukur keberhasilan melalui jumlah pengikut, tanda suka, komentar, maupun tingkat popularitas di media sosial.
Namun, realitas menunjukkan bahwa perhatian publik sering kali bersifat sementara. Sosok yang hari ini menjadi perbincangan hangat dapat dengan cepat tergantikan oleh isu atau figur baru pada hari berikutnya.
Fenomena tersebut menjadikan pesan tunsā ka annaka lam takun semakin relevan. Filosofi ini mengajak manusia untuk tidak terlalu bergantung pada pengakuan eksternal sebagai sumber kebahagiaan. Sebab, apa yang dianggap penting hari ini belum tentu akan diingat pada masa mendatang.
Lebih jauh, pepatah ini juga mengandung ajakan untuk menjalani hidup dengan kerendahan hati.
Kesadaran bahwa setiap manusia pada akhirnya akan dilupakan mendorong seseorang untuk lebih fokus pada nilai, karya, dan manfaat yang dapat diberikan kepada orang lain daripada sekadar mengejar ketenaran sesaat.
Dalam perspektif kehidupan modern, pesan tersebut bukanlah bentuk pesimisme, melainkan pengingat tentang keterbatasan waktu yang dimiliki manusia.
Kesadaran akan kefanaan justru dapat menjadi dorongan untuk menggunakan hidup secara lebih bermakna, membangun hubungan yang tulus, serta meninggalkan kontribusi positif bagi lingkungan sekitar.
Pada akhirnya, tunsā ka annaka lam takun mengajarkan bahwa hidup bukan semata tentang seberapa terkenal seseorang, melainkan tentang jejak kebaikan dan manfaat yang ditinggalkan.
Sebab ketika waktu terus bergerak, yang bertahan bukanlah popularitas, melainkan nilai yang pernah diberikan kepada sesama.(*)
