Parsimoni vs Budaya Presentasi Berbelit: Saat Kesederhanaan Kalah oleh Banyaknya Slide
Rahimnews.id – Prinsip parsimoni yang selama berabad-abad menjadi landasan berpikir ilmiah tampaknya masih menjadi barang langka dalam banyak forum presentasi di Indonesia.
Alih-alih menyampaikan gagasan secara ringkas dan tepat sasaran, tidak sedikit pemateri justru terjebak dalam tumpukan slide, istilah teknis, dan penjelasan yang berputar-putar.
Parsimoni merupakan prinsip yang menekankan bahwa suatu persoalan sebaiknya dijelaskan dengan asumsi dan penjelasan yang seperlunya saja.
Dalam filsafat ilmu, prinsip ini dikenal melalui konsep Occam’s Razor, yang menyatakan bahwa penjelasan yang lebih sederhana cenderung lebih baik dibanding penjelasan yang menambahkan unsur-unsur yang tidak diperlukan.
Namun dalam praktik komunikasi modern, terutama di lingkungan birokrasi, organisasi, maupun dunia pendidikan, budaya yang berkembang justru sering kali berkebalikan. Presentasi berdurasi 15 menit bisa berubah menjadi paparan satu jam.
Masalah yang sebenarnya sederhana dibungkus dengan diagram rumit, jargon asing, dan puluhan slide yang membuat audiens kehilangan fokus pada inti persoalan.
Fenomena tersebut memunculkan paradoks. Semakin panjang penjelasan, semakin tinggi pula kesan bahwa materi yang dibahas sangat kompleks.
Padahal, kerumitan penyampaian tidak selalu mencerminkan kedalaman pemikiran. Dalam banyak kasus, kemampuan menyederhanakan gagasan justru menjadi indikator penguasaan materi yang lebih baik.
Pengamat komunikasi menilai budaya “berbelit-belit” ini lahir dari anggapan bahwa kesederhanaan identik dengan kurang cerdas. Akibatnya, sebagian orang merasa perlu menambahkan istilah teknis atau penjelasan panjang demi terlihat lebih intelektual.
Padahal prinsip parsimoni mengajarkan sebaliknya: kecerdasan bukan terletak pada seberapa rumit seseorang menjelaskan sesuatu, melainkan seberapa jelas ia membuat orang lain memahaminya.
Di era informasi yang bergerak cepat, kemampuan menyampaikan pesan secara ringkas menjadi semakin penting. Audiens tidak lagi memiliki waktu untuk menyimak penjelasan yang berputar-putar. Mereka membutuhkan informasi utama terlebih dahulu, baru kemudian rincian pendukung jika diperlukan.
Karena itu, prinsip parsimoni tidak hanya relevan dalam dunia filsafat dan sains, tetapi juga dalam ruang rapat, ruang kuliah, hingga forum publik. Ketika satu kalimat mampu menjelaskan sebuah gagasan dengan jelas, tidak ada alasan untuk menghabiskannya dalam sepuluh slide.
Barangkali tantangan terbesar komunikasi di Indonesia hari ini bukan kekurangan informasi, melainkan keberanian untuk menyederhanakan informasi tanpa kehilangan maknanya.
Sebab sering kali, yang sulit bukan memahami hal yang rumit, melainkan menjelaskan hal yang rumit dengan cara yang sederhana. (*)
