Ego Intelektual, Superior Sindrom (?)

0
Sharing

Oleh: Iven Hartiyasa. (Pegiat Filsafat Kutai Kartanegara)

Rahimnews.id – ‎Yang paling cepat menyalahkan orang lain, sering kali adalah mereka yang paling takut menemukan bahwa pengetahuannya sendiri belum lengkap.

Sebab ego intelektual tidak lahir dari ke-luas dan/ luwes-an berpikir, melainkan dari kepanikan ketika perspektifnya bukan satu-satunya kebenaran.

‎Tidak bisa menerima apapun selain yang sudah ada pada dirinya. Terkurung di dalam kotak kebenaran subjektifnya sendiri, sehingga kalau ia berekspresi, berinteraksi atau berdebat dengan manusia lain, yang ia bawa bukan kebenaran –kebijaksanaan, melainkan pembenaran atas (yang ia sangka) kebenarannya sendiri.

‎Ketika seseorang hanya hidup di dalam satu kerangka pengetahuan, ia sering tanpa sadar menjadikan kerangka itu sebagai ukuran tunggal kebenaran.

Segala sesuatu yang berada di luar batas pemahamannya dianggap keliru, tidak rasional, atau tidak berguna. Padahal itu (hanya) limitasinya.

‎Di sinilah ego intelektual bekerja secara halus, bukan dalam bentuk kesombongan yang terang-terangan, melainkan dalam keyakinan diam-diam bahwa apa yang tidak dapat ia pahami pasti tidak layak dipercaya.

Pengetahuan yang seharusnya membebaskan justru berubah menjadi tembok pembatas antara diri dan kemungkinan-kemungkinan baru.

‎Fanatisme monodisiplin memperkuat ilusi bahwa realitas dapat dijelaskan sepenuhnya oleh satu sudut pandang (/metodologi) saja.

Seorang saintis ekstrem mungkin menolak nilai pengalaman spiritual karena tidak terukur, sementara seorang dogmatis religius bisa menolak temuan ilmiah karena dianggap mengganggu keyakinan.

‎Ya, keduanya sama-sama terjebak dalam reduksionisme, menyederhanakan kompleksitas hidup menjadi satu bahasa tunggal. Padahal kenyataan manusia jauh lebih luas daripada kategori yang mampu kita susun.

Ada wilayah empiris, etis, estetis, dan eksistensial –ontologis yang tidak selalu bisa dipaksa masuk ke dalam satu metode penilaian.

Sekarang, apa namanya kalau bukan sebuah gejala superior sindrom (?!)

‎Secara filosofis, sikap ini menunjukkan kegagalan dalam memahami keterbatasan epistemologis manusia. Kita sering lupa bahwa mengetahui bukan berarti menguasai seluruh realitas, melainkan hanya menyentuh sebagian kecil darinya.

‎Kesadaran akan keterbatasan seharusnya melahirkan ke-tawadhu’-an intelektual, bukan klaim superioritas. Socrates sendiri menempatkan kebijaksanaan pada pengakuan bahwa ia tahu dirinya tidak tahu.

Maka, orang yang paling berbahaya bukanlah yang bodoh, melainkan yang merasa pengetahuannya sudah cukup untuk menilai seluruh dunia.

‎Karena itu, kedewasaan berpikir tidak ditandai oleh seberapa keras kita mempertahankan perspektif sendiri, tetapi oleh seberapa luas kita memberi ruang bagi perspektif lain untuk berbicara. Artinya apa? terbukanya hipotesa –sintesa baru.

‎Dialog antardisiplin bukan ancaman terhadap identitas intelektual, melainkan cara untuk menyempurnakannya. Kebenaran tidak tumbuh dari fanatisme, melainkan dari keberanian untuk meragukan kepastian (versi) diri sendiri. Semacam skeptis-nihilism dalam dosis tertentu.

‎Saat kita berhenti menganggap yang asing sebagai (auto) kesalahan, di situlah pengetahuan berubah dari alat pembenaran ego menjadi jalan menuju kebijaksanaan.

‎Sebab, konon, semakin sempit wawasan seseorang, semakin luas keberaniannya memberi vonis. Membaca satu dua buku, lalu merasa ditunjuk semesta sebagai hakim agung kebenaran; memahami dua tiga teori, lalu sibuk mengoreksi seluruh peradaban.

‎Barangkali, baginya, jika sesuatu tidak muncul di ruang diskusinya, tidak tertulis di kitab –juknis kelompoknya, atau tidak viral di benak pikirannya, maka itu pasti bid’ah, sesat, dan harus segera diselamatkan, tentu menurut versinya.

Ia lupa bahwa arogansi intelektual sering kali bukan (cuma) lahir dari banyaknya pengetahuan, melainkan dari minimnya kesadaran bahwa dunia jauh lebih luas daripada volume kepalanya.

Ada metafora tentang sebuah kebenaran dari Suhrawardi: apa yang kita sebut sebagai “kebenaran” yang kita miliki sebenarnya hanyalah pantulan cahaya matahari yang tertangkap oleh air di dalam cawan kita. Dalam metafora ini, hubungan antara matahari, cawan dan pantulan tersebut menjelaskan bagaimana manusia berinteraksi dengan kebenaran yang mutlak.

Setiap orang memegang cawan di posisi yang berbeda-beda. Kita semua melihat pantulan dari matahari yang sama, tetapi hanya sebatas apa yang mampu ditangkap oleh wadah kita masing-masing.

Kesalahan terbesar adalah ketika kita melihat pantulan di dalam cawan lalu mengira, “inilah matahari itu”. Sementara Matahari yang asli tetap berada tinggi di langit, tak tersentuh dan tak terbagi.

‎Ihdinas sirat-al mustaqim, minadzulumat ilan nur, billahi taufik wal hidayah, wallahu a’lam bishowab. (*)


Sharing

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *