Disdikbud Kukar Targetkan Perbup Kawasan Budaya Tenggarong Rampung Tahun Ini
Rahimnews.id- Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kutai Kartanegara (Kukar) menargetkan penyusunan Peraturan Bupati (Perbup) tentang Kawasan Budaya di pusat Kota Tenggarong rampung pada 2025.
Regulasi ini bakal menjadi landasan hukum penataan ruang publik berbasis budaya lokal sekaligus pengungkit pariwisata daerah.
“Draf Perbupnya sudah ada. Sekarang tinggal proses harmonisasi antar OPD sambil menunggu hasil kajian tambahan,” ujar Kepala Disdikbud Kukar, Thauhid Afrilian Noor.
Ruang lingkup Kawasan Budaya yang dirancang membentang dari area depan Kedaton Kutai Kartanegara hingga Monumen Pancasila, menyusuri tepian Sungai Mahakam ke arah eks Tanjong dan Planetarium. Wilayah ini juga akan menjangkau jalur menuju Gunung Pendidik, tetap mempertahankan akses darat untuk publik.
Thauhid menegaskan, Perbup ini akan menjadi acuan resmi pengelolaan kawasan, mulai dari tata kelola parkir, penataan pedagang kaki lima, hingga penyelenggaraan rutin kegiatan seni dan budaya.
“Kita ingin orang yang datang ke Tenggarong tahu bahwa ini adalah Kawasan Budaya. Ada pentas seni, ada kehidupan budaya. Bukan sekadar tempat kumpul,” tegasnya.
Kesultanan Kutai Kartanegara Ing Martadipura turut mendukung penuh rencana ini. Dukungan ditunjukkan melalui pembukaan Kedaton secara berkala sebagai ruang pelestarian budaya dan edukasi sejarah.
Wilayah tersebut telah ditetapkan sebagai Kawasan Budaya sejak awal 2024. Penetapan ditandai dengan prasasti yang ditandatangani langsung oleh Bupati Kukar dan Sultan Kutai dalam rangka peringatan Hari Jadi Kesultanan.
Thauhid menambahkan, kegiatan seni tradisional seperti Tingkilan dan Jepen akan kembali dihidupkan sebagai agenda tetap kawasan, menegaskan karakter budaya Kukar yang khas.
“Ini akan memperkuat citra Kukar sebagai daerah yang menjunjung tinggi warisan leluhur. Kawasan Budaya ini harus dijaga bersama. Bersih, tertib, dan hidup sebagai wajah budaya kita,” ucapnya.
Ia pun menyebut bahwa di akhir pekan, kawasan ini mulai ramai dipadati warga. “Malam Minggu di sini sudah jadi kebiasaan masyarakat. Tapi kita ingin lebih dari itu—bukan hanya tempat nongkrong, melainkan ikon baru budaya Etam,” pungkas Thauhid. (Adv)
